Mentari
mulai menyapa dunia dari ufuk timur, sinarnya mulai memancar dan menghangatkan
setiap ruas tubuhku. Pagi ini masih sama dengan pagi-pagi sebelumnya. Akan
tetapi, event besar yang diselenggarakan di sekolahku membuat jiwa ini
bersemangat untuk datang lebih awal. Ya, ini memang masih pukul 05.30 WIB. Tetapi,
tak sabar rasanya untuk segera menyambut para peserta yang ikut di event
tersebut. Sudah pasti para panitia event telah datang dan berkumpul hingga
halaman sekolah terlihat penuh dengan hiruk pikuk keramaian. Dan satu hal yang
mengagumkan nampak terselip disana. Sungguh tak kusangka, para peserta event
telah datang dan mulai menebar senyum-senyum manis mereka. Padahal event baru
akan dimulai pukul 07.00 WIB. Mungkin saja karena event ini diselenggarakan di
SMA favorit. Mungkin juga, itu sudah menjadi pribadi dari para peserta event. Setelah
para peserta selesai daftar ulang, mereka dipersilakan untuk masuk ke ruangan
mereka masing-masing. Begitu juga dengan para panitia pengawas ruang. Dan hari
ini aku akan bertugas sebagai panitia pengawas ruang, ruang 07 tepatnya.
Tepat
pukul 07.00 WIB bel berbunyi sebagai tanda event telah dimulai. Sebagai
pengawas ruang, aku mulai membacakan tata tertib pelaksanaan event ini. Karena
event ini adalah lomba MIPA SMP sederajat, sudah pasti diantara tata tertibnya
adalah dilarang mencontek. Selesai membacakan tata tertib aku mulai membagikan
soal dan lembar jawab. Para peserta memandangku
dengan mata yang berbinar-binar. Entah
apa yang sedang mereka rasakan aku tak tahu pastinya. Aku bersyukur event ini
bisa berjalan dengan lancar. Walaupun tak sedikit dari mereka yang mencoba
memberikan jawaban pada temannya. Dan satu dari mereka membuatku cukup jengkel.
Berulang kali aku mengingatkannya, tapi tak dihiraukan olehnya. Bukan, bukan
karena ia meminta atau memberi jawaban. Tetapi, karena ia selalu mengajak teman
disebelahnya bercerita. Entahlah aku tak tahu namanya dan darimana asal sekolahnya,
bahkan aku tak pernah ingin tahu. Tapi yang pasti, ia nampak lebiah dewasa
diantara teman-teman sebayanya.
Beberapa hari setelah diselenggarakannya
event tersebut, aku mendapat sebuah pesan singkat dari nomor yang tak kukenal. Dia
mencoba memperkenalkan diri kepadaku. Ya, namanya adalah Aldi. Ah, tapi biarlah,
mungkin hanya orang iseng. Aku tak begitu menganggap serius perkenalan itu. Tetapi,
aku mulai penasaran ketika ia mulai menceritakan beberapa hal tentangku. Aku
mulai bertanya, darimana ia mendapatkan nomor teleponku. Dan ternyata ia
mendapatkan nomor teleponku dari temanku yang juga bertugas sebagai panitia
pengawas ruang pada saat event besar itu diselenggarakan. Sungguh, ini adalah
hal yang tak pernah kuharapkan.Mengapa harus dia? Mengapa harus si biang cerita
diruang 07 itu yang menghubungiku. Apa coba maunya? Apa ia masih belum puas
membuatku jengkel ataukah ia ingin menunjukkan padaku bahwa ia benar-benar
pandai bercerita? Entahlah tak ada yang perlu dipastikan dan aku tak pernah menginginkan
kepastiannya.
Hari demi hari mulai berlalu dan ia
masih saja menghubungi. Aku sudah bersikap acuh padanya, tapi entah mengapa ia
tak pernah bosan. Bukan karena aku benar-benar angkuh, aku hanya tak ingin
membuang waktuku sia-sia untuk menanggapi anak kecil. Hingga akhirnya mungkin
ia mulai bosan dan bertanya padaku “Kak Ica kenapa sih kok galak banget sama
aku? Aku salah apa?” “Nggak ada yang salah, ini udah sifatku.” Ya pastinya ia
memang tak semudah itu percaya pada alasanku. Tapi biarlah, semoga saja setelah
ini ia berhenti menghubungiku. Tapi tetap saja, ia tak berhenti menghubungiku. Justru
ia semakin sok asik. Mungkin harapannya aku juga bisa begitu, ya minimal aku
lebih menganggapnya ada. Tapi sayangnya itu tak akan terjadi. Aku semakin heran,
kenapa anak kecil ini tak pernah berhenti, padahal aku tak pernah
menganggapnya.
Akhirnya aku mulai merasa kasihan
padanya. Sedikit demi sedikit aku mulai menanggapi ceritanya. Ternyata tak
seburuk yang kupikirkan. Biarpun ia masih SMP, sifatnya tak kekanak-kanakan.
Tapi tetap saja, yang namanya anak kecil sudah pasti menyebalkan. Aku mulai tau
banyak hal tentangnya dan mungkin sekarang aku lebih mengenalnya. Pantas saja
ia bersikap lebih dewasa. Ternyata usianya memang sedikit lebih dewasa daripada
aku. Entahlah, ini karena aku yang terlalu bersemangat sekolah atau dia yang terlalu
menikmati pendidikannya, aku tak mengerti. Dan bagiku itu tak perlu
dipertanyakan. Aku sendiri tak mengerti bagaimana seharusnya aku, menghormati
atau dihormati? Entahlah. Dia mulai menanyakan banyak hal tentangku. “Eh
ngomong-ngomong katanya Kak Ica udah punya pacar ya?” “Iya, udahlah berhenti
panggil aku kakak. Biasa aja, toh kamu
juga lebih tua kan.” “Iya Ica, terus pacar kamu cemburu nggak sama aku” “Ya enggak
lah, masa iya cemburu sama anak kecil. Nggak usah ngarep deh.” “Cuma tanya.”
Sejak saat itu, ia mulai menjauh
dariku. Ah syukurlah, nggak perlu diusir udah pergi sendiri. Tapi kasihan juga
dia, sepertinya ia mulai pupus harapan. Biarpun begitu sikapku tak akan
berubah. Ia menjauh mungkin karena ia masih butuh waktu untuk sendiri. Beberapa
hari kemudian ia kembali menghubungiku. Tetapi, kini sikapnya agak berubah. Sepertinya
ia benar-benar ingin menjaga jarak dariku. Biarlah, yang penting bukan aku yang
menyuruhnya pergi. Jadi aku tak perlu minta maaf kepadanya.
Suatu
hari ia mengajakku untuk bertemu dan ini akan menjadi pertemuanku yang pertama
dengannya. Tidak , pertemuan yang kedua lebih tepatnya. Karena aku telah
bertemu dengannya di event itu sebelumnya. “Ica aku pengen ketemu kamu, aku
pengen ngomong sesuatu.” “Ngomong apa Di? Kan ngomong lewat pesan singkat aja
bisa.” “Nggak bisa. Udahlah ayo!” “Dasar tukang maksa. Ya sudahlah kapan?”
“Lusa ya?” “Dimana?” “Di Cafe dekat sekolah kamu aja ya” “Iya.” “Tapi nggak ada
yang marah kan?” “Enggak, siapa yang mau marah?” “Pacar kamu.” “Hubungan kami
udah berakhir.” “Kenapa?” “Udah nggak sejalan.”
Rintik-rintik
hujan mulai membasahi bumi dan perlahan sinar mentari mulai menghilang tertutup
awan nan hitam pekat. Dinginnya udara pun mulai menusuk tajam menembus kulit
hingga tiba di ruas-ruas tulang. Di luar mulai nampak angin berhembus meniup
daun-daun kering yang telah jatuh dari pohon. Secangkir cappucino hangat yang
disajikan tak mampu menghangatkan tubuh ini. Kemana juga si Aldi, udah
suasananya nggak mendukung dia tak kunjung datang juga. Sebenarnya apa yang mau
dia biacarakan sampai nggak bisa dibicarakan di pesan singkat. “Ica udah lama?”sambil
menepuk pundakku. “Eh kamu Di , udah lama ngagetin lagi.” “Maaf ya.” “Iya , mau
ngomong apa sih sebenarnya?” “Enggak ngomong apa-apa , cuma mau ketemu kamu.”
“Tau gitu aku nggak bakal datang, buang-buang waktu saja. Dasar anak kecil.”
“Kamu marah? Maafin ya, kalau nggak gini aku nggak bisa ketemu kamu.” “Ah,
udahlah kalau kamu nggak mau ngomong apa-apa aku pulang dulu.” “Mau aku antar?”
“Nggak usah, rumahku nggak jauh.”
Sejak
pertemuan kami saat itu, ia tak lagi menghubungiku. Mungkin dia marah karena
aku meninggalkannya pulang begitu saja. Tapi , mungkin juga ia masih sibuk
belajar. Karena beberapa hari ini Ujian Nasional dilaksanakan oleh seluruh SMP
sederajat di Indonesia. Aku tak perlu cemas, biarkan saja ia tak menghubungiku
toh juga tak akan mempengaruhi kehidupanku. Malah aku senang kalau ia tak
menghubungiku, jadi aku tak perlu sungkan-sungkan untuk tidak membalas
pesannya. Tapi tetap saja, selang satu hari setelah Ujian Nasional berakhir
Aldi kembali menghubungiku. Ya, mungkin dia memang tak pernah bertemu dengan
rasa bosan. “Ica, kangen” “Dasar anak kecil, nggombal aja bisanya.” “Enggak Ca,
aku beneran kangen.” “Udahlah, kamu diam akan lebih baik.” “Ca, aku mau jadi
pacar kamu.” “Diam aja, bercandanya nggak lucu.” “Aku beneran.” “Beneran apa?
Beneran bercanda? Udahlah aku tahu kamu habis ujian dan kamu butuh hiburan,
tapi beneran deh, itu bercandanya nggak lucu.” “Iya aku cuma bercanda, maaf
kalau nggak lucu.”
Lagi-lagi
ia sungguh keterlaluan, dia pikir aku adiknya yang bisa diajak bercanda saat
dia butuh hiburan. Tapi kalau dipikir-pikir ia lucu juga, berani-beraninya ia
bercanda sampai sebegitunya. Untung, aku bukan tipe anak yang dikit-dikit bawa
perasaan. Dasar anak kecil, sukanya cuma basa basi nggak jelas. Tapi setidaknya
aku sedikit terhibur.
Hari
berganti minggu dan minggu telah berganti bulan. Sikapnya masih tetap saja
begitu, padahal ini sudah tiga bulan setelah perkenalan kami. Mungkin anak ini
memang benar-benar tidak mempunyai rasa bosan. “Ica mau ketemu lagi nggak?”
“Untuk apa?” “Aku mau pamitan sama kamu Ca.” “Pamitan? Emang kamu mau kemana
Di?” “Aku mau melanjutkan sekolah ke luar kota Ca.” “Oh , jadi kapan ketemunya?
Dimana?” “Besok ya Ca , ditempat biasa Ca.” “Baiklah, jangan lama-lama aku
males nunggu.” “Iya Ica.”
Dan
lagi, lagi-lagi ia tak kunjung datang. Sungguh keterlaluan, ketika aku menuju
tempat ini mentari masih bersemangat menunjukkan senyumnya. Tapi, sekarang
sinar mentari mulai muram dan Aldi belum datang juga. Sesekali aku memandangi
ponselku, barangkali Aldi memberikan penjelasan. Namun, ponselku masih diam
menikmati kesunyiannya. Akhirnya aku mulai membuang gengsiku, untuk menghubungi
Aldi. “Di kamu dimana? Jadi nggak?” “Eh Ca maaf aku nggak bisa aku ada acara
mendadak, maaf aku lupa ngasih tahu kamu.” “Oh, yaudah aku pulang kalau gitu.” Aku
mencoba bertanya pada angin, belum puaskah ia membuatku jengkel selama ini.
Lalu, apa salahku hingga ia begitu tertarik untuk membuatku naik darah. Yang
namanya anak kecil tetap saja anak kecil. Seserius-seriusnya dia, tetap saja
dia tak mampu menghargai orang lain.
Hari
ini aku benar-benar membiarkan ponselku menikmati kesunyiannya. Bukan karena
aku marah ataupun benci. Aku hanya tak ingin naik darah, untuk sekali ini saja.
Malamnya, aku mulai memandangi ponselku dan mulai berpikir mungkin saja ada hal
penting yang masuk melalui pesan singkat. Masih sama seperti biasanya, semua
pesan singkat yang masuk berasal dari sender yang sama. Siapa lagi kalau bukan
Aldi. Ia mengirim banyak sekali pesan singkat dan isinya itu-itu saja. Mungkin
jika poselku dapat berbicara, ia akan menjerit atau bahkan menegur Aldi dan
melarangnya untuk mengirim pesan singkat lagi. Aku hanya membaca satu persatu
pesan singkat dari Aldi, tanpa membalasnya. Karena aku juga bingung, pesan
singkat mana yang harus aku balas terlebih dahulu. “Ca, kamu jangan diam aja. Maafin
aku Ca.” “Apaan sih kamu Di, maaf untuk apa? Kamu nggak salah.” “Ca, jangan
gitu. Aku tahu kamu marah gara-gara yang kemarin.” “Enggak Di, aku nggak marah.
Udahlah aku mau tidur.” Aku meletakkan ponselku dan mulai berjalan menyusuri
mimpi-mimpi.
Sayup-sayup
aku mulai mendengar suara adzan dikumandangkan. Perlahan aku mulai membuka mata
dan bergegas melaksanakan kewajibanku. Selesai itu, aku kembali menghampiri
ponselku yang berada diatas meja. Mungkin saja Aldi masih menjelaskan kejadian
itu panjang lebar, padahal aku benar-benar tidak marah ataupun benci. Dan benar,
ada satu pesan singkat dari Aldi. “Yaudah Ca makasih kalau kamu nggak marah. Oh
iya Ca besok aku udah berangkat ke luar kota dan mungkin ini adalah pesan
singkat yang terakhir dari aku. Kamu jaga diri baik-baik ya Ca. Semoga suatu
saat nanti kita bisa berjumpa kembali.” Aku mencoba membalas pesan singkat dari
Aldi. Namun, semua pesan singkat yang kukirimkan gagal karena nomor Aldi sudah
tidak aktif. Sejak saat itu aku tak lagi mendapati Aldi menghubungiku.
Hingga
tiga tahun setelah terakhir kali Aldi menghubungiku, aku kembali mendapatkan
pesan singkat dari nomor yang tak kukenal. “Assalamualaikum Ica.” “Waalaikumsalam,
maaf ini siapa?” “Lupa ya Ca?” “Boleh nebak?” “Boleh” “Aldi kan?” “Wah, kamu
kok tahu Ca?” “Iya lah, aku kan ahli nebak. Enggak, enggak ini cuma kebetulan.”
“Pasti ini karena kamu kangen banget Ca sama aku.” “Enggak ya, dasar menyebalkan.”
“Udah ditinggal tiga tahun masih aja negatif thinking. Eh Ca aku kangen nih,
ketemu yuk.” “Kapan? Dimana? Asal kamu datang aja.” “Besok, ditempat biasa. Iya,
iya aku pasti datang.”
Hari
ini mentari benar-benar menunjukan senyum manisnya kepada dunia. Angin pun
perlahan mulai berhembus dan secangkir es cappucino mulai menemaniku menikmati
sapaan lembut sang angin. Sesosok insan yang mungkin aku tak lagi asing
dengannya berlari dan berhenti dihadapanku. “Ca udah lama?” “Belum, baru 15
menit.” “Kamu masih marah sama aku Ca? Maafin aku Ca.” “Apaan sih, udahlah.”
“Aku tahu Ca dari dulu kamu tak pernah menyukaiku atau bahkan membenciku.” “Iya
memang.” Aku sedikit menghela nafas. “Itu yang kamu tahu, tapi tidak denganku.”
“Maksudmu?” “Aku tak pernah membencimu Di, selama ini aku diam, aku angkuh, aku
cuek karena aku merasa belum pantas untukmu. Ketahuilah, setelah kamu
menyelesaikan pendidikan di SMP aku selalu berharap untuk bisa satu sekolah
denganmu. Walau kenyataannya tak seperti itu. Bahkan, saat kamu pergi aku
selalu berdo’a untuk dapat bertemu denganmu kembali dan aku berharap kamu
kembali untukku. Aku selalu menunggu dan merindukanmu Di.” Aku mencoba menahan
genangan air mata ini dihadapannya. Dia pun mulai menatapku dan tersenyum.
0 komentar:
Posting Komentar