Jumat, 01 April 2016

Lentera Malam

Matahari masih menampakkan sinarnya,tetapi entah mengapa benda yang berada seratus meter dari sini sudah tak terlihat,mungkin mata ini terlalu lemah untuk memandang atau memang semak-semak dan pepohonan lah yang paling berperan disini.Ini pertama kalinya aku merasakan panorama  yang berbeda, biasanya saat mentari sudah kembali ke peraduannya pun aku masih sanggup melihat benda yang jaraknya lima ratus meter, tetapi disini tepatnya di suku Dayak bagian pedalaman sangatlah berbeda.Keadaannya masih sangat menghawatirkan bahkan belum ada listrik disini, bahkan saat malam tiba masyarakat suku Dayak hanya menggunakan lentera sebagai alat penerangannya.”Bu Guru tidak mandi ? kalau mau mandi mari ikut saya.” “Emmm tidak bu,besok pagi saja saya mandinya.” “Oh yasudah ,besok pagi kalau bu guru mau mandi mampir ke rumah saya dulu  ya,nanti saya antar ke tempat pemandiannya .” “Baik bu terimakasih.” Akhirnya ibu-ibu tadi pergi meninggalkanku .Beberapa warga yang ada di sini memang baik, tetapi kebanyakan warga yang tinggal disini sifatnya begitu keras,mereka hanya berpegang pada pendapatnya sendiri-sendiri.
            Baru pukul enam sore tapi rasanya bagaikan tengah malam, aku terpaksa untuk masuk ke dalam rumah.Rasanya seperti tak ada peradaban di suku ini, kegelapan dan kesunyianlah yang sangat berperan disini.Aku mulai merasa lapar, tetapi aku tak tahu harus kemana aku mencari makanan.Di sepanjang perjalananku menuju tempat ini tak satu pun aku temui warung makanan.Mungkin warga disini sangat mandiri hingga mereka selalu memenuhi kebutuhannya sendiri-sendiri.
Tiba-tiba saja seseorang mengetuk pintu rumahku “Siapa?” “Saya Bu guru,saya mau menghantarkan makanan” “Oh iya bu silahkan masuk,pintunya tidak di kunci.” “Baik.” Alhamdulillah akhirnya ada warga yang peduli denganku.”ini makanannya ditaruh mana bu?” “Ditaruh di meja sini saja bu.” “Iya.” “Mari duduk bu,kita makan bersama.” “Ah tidak usah,bu guru saja yang makan ,saya sudah makan tadi.” “Baiklah bu,terimakasih ya bu sudah di bawakan makanan.” “Iya bu sama-sama ini sudah menjadi kewajiban saya sebagai istri kepala suku untuk memberikan makanan kepada tamu.Ibu betah tinggal disini ?” “Do’akan ya bu,semoga saja saya betah.” “Baik.Mulai kapan bu guru akan mengajar?” “Besok saya sudah mulai mengajar bu.” “Semoga ibu kuat dan betah mengajar disini.Dulu juga sudah pernah ada guru yang di tugaskan disini tapi ia tidak betah mengajar di sini dan akhirnya pulang.” “Memang murid-murid disini,sifatnya bagaimana bu?” “Ya sebagian besar dari mereka masih sulit untuk menerima pelajaran bu?” “Apakah semua anak yang ada disini bersekolah bu?” “Tidak,kebanyakan dari anak yang ada di sini lebih memilih membantu orang tuanya berburu dan memasak,karena mereka beralasan sekolah hanya akan menghabiskan uang.” “Tapi kan disini sekolah gratis bu.” “Iya sekolahnya gratis tetapi seragamnya mahal .” “Oh jadi itu alasannya.” “Iya.Bu guru sudah selesai makannya?” “Sudah bu.” “Bagaimana rasanya enak apa tidak.” “Enak bu” Ibu kepala suku pun memasukkan wadah makanan ke dalam tasnya “ Loh bu kan belum saya cuci.” “Nggak apa-apa bu guru disini kan nggak ada air,nanti saya cuci di rumah saja.” “Sekali lagi terimakasih banyak ya bu.” “Iya sama-sama.”
            Keesokan harinya,saat masih pagi buta aku bergegas ke rumah ibu kepala suku untuk mandi,tetapi betapa terkejutnya aku,saat aku mengetahui bahwa tempat pemandian itu adalah sungai.Akhirnya aku memutuskan untuk tidak mandi,dan langsung bergegas ke sekolahan untuk mengajar.Rasanya sudah tidak sabar untuk menemui murid-murid baruku.
            Tetapi kenyataannya semua tak seperti yang kuharapkan.Murid-murid yang datang hanya sedikit,bahkan tak ada satu pun dari mereka yang menghargai kedatanganku.Tetapi aku harus tetap semangat.Aku menyuruh mereka masuk,lalu aku memperkenalkan diri pada mereka.Tapi tetap saja mereka malah asyik berbincang-bincang sendiri.Rasanya begitu menyesakkan, tapi inilah perjuangan “Murid-murid apakah semuanya sudah lengkap?” “Belum bu.” “Lalu siapa yang belum datang?” “Ani bu.” “Mengapa dia tidak masuk?” “Tidak tahu bu.” Tanpa berfikir panjang aku langsung memulai pelajaran untuk hari ini.
            Beberapa jam kemudian Ani pun datang,seperti anak tanpa sopan santun ia masuk tanpa salam ataupun izin terlebih dahulu, “Kamu Ani kan?” “Iya bu.” “Mengapa kamu telat?” “Tadi saya membantu ibu mencari sayur di hutan, sebenarnya saya sudah di suruh pulang duluan tetapi di perjalanan menuju rumah saya terjatuh dan kaki saya keseleo,lalu saya tidak bisa berjalan dan memutuskan untuk menunggu ibu saya,hingga akhirnya ibu pulang melewati jalan yang sama ,dan akhirnya mengajak saya pulang lalu mengobati kaki saya yang keseleo.” “Lalu ,sekarang kaki kamu masih sakit.” “Tidak bu,sudah sembuh.” “Oh ya sudah,mari anak-anak kita lanjutkan belajarnya.” Saat pelajaran masih berlangsung salah satu murid bertanya “Apa sih bu gunanya kita belajar ? toh orang tua saya yang tidak sekolah juga bisa menghidupi saya dan saudara saya.” “Ya supaya kita lebih pandai dan menjadi insan yang cerdas sehingga mudah untuk mencapai cita-cita.” “Tapi apa gunanya cita-cita bu sementara tanpa cita-cita pun kita masih bisa hidup.” “Jika kita mempunyai cita-cita dan cita-cita kita tercapai maka kita akan menjadi orang yang berarti.” “Oh.”
            Sepanjang aku mengajar tak satupun anak yang memperhatikanku, bahkan Ani malah berbicara sendiri,sehingga teman-temannya pun ikut gaduh.Tapi aku tetap semangat,mungkin ini semua terjadi karena mereka masih beradaptasi ,lagipula mereka masih SD jadi wajar jika mereka belum tahu jika tindakan mereka dapat menyinggung perasaan orang lain.Hingga akhirnya pelajaran pun berakhir, mereka bergegas untuk pulang kerumah masing-masing.Tak lupa aku mengajari mereka untuk berdo’a dan berjabat tangan sebelum pulang.Sebagian dari mereka ada yang tertib dan mengikuti perintahku, sebagian juga ada yang langsung pulang , dan Ani ,hmm lagi-lagi anak itu bertindak semaunya sendiri,saat semua masih khidmat berdo’a ia malah langsung pergi meninggalkan kelas tanpa permisi.
            Hari kedua,dan hari-hari berikutnya pun sikap mereka masih tetap.Mereka sepertinya menganggap pelajaran itu tidak penting bahkan mereka tidak menginginkan untuk meneruskan sekolah,mereka sekolah seperti hanya terpaksa,bukan karena kemauannya sendiri.Hingga akhirnya tepat satu bulan aku mengajar disini,aku memutuskan untuk berhenti mengajar disini.Masih pagi buta aku bergegas ke suku Dayak luar untuk menemui kepala dinas pendidikan suku Dayak.Tapi sesampainya disana “Jadi ibu memutuskan untuk berhenti mengajar di suku Dayak bagian pedalaman?” tanya sang kepala Dinas Pendidikan “ Iya pak saya sudah tidak betah mengajar disini,sepertinya murid-murid juga tidak membutuhkan kehadiran saya.” “Justru itu bu,karena murid-murid suku Dayak pedalaman belum mengerti betapa pentingnya pelajaran ,maka kehadiran ibu Evita disini sangatlah dibutuhkan,jadi saya mohon ibu untuk tetap mengajar disini,bahkan jika ibu sanggup ibu bisa mengajak anak-anak yang belum mampu bersekolah untuk mulai bersekolah .” “Tapi bagaimana caranya pak,mereka menganggap sekolah hanya menghabiskan uang dan lagi-lagi seragam yang jadi alasannya.” “Ya ibu harus memberi kebebasan pada mereka untuk tidak memakai seragam sekolah.” “Bagaimana mungkin pak?mereka yang berseragam saja tidak bisa diatur apalagi mereka yang tidak berseragam.” “Ibu harus sabar,ibu anggap saja ini adalah pengabdian,ibu harus paham bagaimana kualitas pendidikan di negeri kita ini.Jika seperti ini saja ibu sudah menyerah lalu akan jadi seperti apa negeri kita dengan generasi penerus bangsa yang tanpa ilmu.” “Baik kalau begitu saya akan berusaha lebih keras lagi pak, terimakasih atas masukkannya.”
            Setelah selesai berbincang-bincang dengan kepala dinas pendidikan suku Dayak aku bergegas untuk pulang.Hal pertama yang kulakukan adalah mendatangi satu-persatu rumah anak yang sudah waktunya sekolah tetapi ia belum mampu bersekolah.”Permisi pak,apakah bapak memiliki anak yang sudah cukup umur untuk sekolah tetapi,ia belum bersekolah?” “Ibu ini siapa ?apa urusan ibu sehingga bertanya-tanya seperti itu,memangnya ibu pikir sekolah itu nggak pakai uang.” Jawab seorang bapak dengan suara kasar.”Maaf pak sebelumnya,saya guru baru disini,saya baru ditugaskan disini selama satu bulan.Saya ingin semua anak disini mendapatkan pelajaran yang sama.Jadi,saya kesini bermaksud untuk mengajak anak bapak bersekolah,anak bapak akan diberikan kebebasan untuk tidak berseragam,sehingga bapak tidak perlu mengeluarkan biaya untuk menyekolahkan anak bapak.Apakah bapak setuju dengan tawaran saya?” “Lebih baik ibu keluar saja dan pulang kerumah ibu!!!anak saya tidak butuh sekolah,ia masih mempunyai banyak pekerjaan yang harus dilakukan.” Lalu sang bapak mendorongku keluar dari rumah dan menutup pintu rumahnya.
            Namun aku tak berhenti sampai disini,aku terus mendatangi rumah-rumah warga yang anaknya butuh sekolah.Namun aku tak berdaya,saat lebih dari 90% warga yang aku datangi menolak tawaranku,sehingga aku harus terima dengan 5 murid baru yang setuju dengan tawaranku.Setidaknya sekarang aku mengajar 15 murid.Aku hanya berharap mereka bisa menjadi insan yang lebih berguna dan mempunyai tujuan hidup.
            Hingga saat ini murid-murid yang ku ajar belum sepenuhnya memperhatikan pelajaranku.Hanya mereka yang tidak berseragamlah yamg sepertinya sangat membutuhkan pelajaranku.Hingga akhirnya aku kesal,dan mengeluarkan kata yang tidak sepantasnya mereka dengar.Sebenarnya aku hanya mengajari mereka untuk bersyukur,karena mereka masih mampu sekolah bahkan berseragam.Karena diluar sana masih banyak anak-anak yang ingin merasakan indahnya di bangku sekolah namun mereka tak mampu.Seketika mereka yang awalnya gaduh menjadi diam,seakan mereka benar-benar paham apa yang kukatakan.
            Sejak saat itu mereka lebih memperhatikan apa yang aku ajarkan,bahkan sekarang mereka menjadi lebih tertib dan disiplin,tak ada satupun murid yang tidak mengerjakan PR.Bahkan Ani yang dulunya tak pernah bisa diatur,kini dia mulai disiplin dan selalu memperhatikan sekolah,sekarang ia terlihat lebih bersemangat saat sekolah.
            Hingga akhirnya beberapa tahun kemudian Ujian Nasional pun diselenggarakan.Semua murid yang ku ajar lulus seratus persen bahkan Ani mampu menembus rangking sepuluh besar.Aku sangat bersyukur,apalagi saat ia berkata bahwa ia akan melanjutkan sekolahnya ke luar kota.Rasanya hatiku seperti terbang tinggi jauh menembus awan.Pada hari itu juga Kepala Dinas Pendidikan menemuiku”Selamat ya ibu berhasil memberikan cahaya di suku ini dengan ilmu yang ibu berikan,andai saja semua guru bisa seperti ibu,saya yakin 15 tahun kedepan negeri ini akan menjadi negeri yang tinggi SDM-nya.” “Terima kasih pak, ini juga berkat motivasi dari bapak,hingga akhirnya saya bahwa tidak ada sesuatu yang tidak bisa kita lakukan selama kita mau berusaha.”

0 komentar:

Posting Komentar